Paper Bisnis Kehutanan Medan, April
2019
CAKAR AYAM SUKUN MANGGA BALADO
Dosen
Penanggungjawab:
Dr. Agus
Purwoko, S.Hut, M.Si
Oleh
:
Luwicha Dian Mintari
161201022
MNH 6
PROGRAM
STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper
Mata Kuliah Bisnis Kehutanan ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Paper yang dibuat ini berjudul “Cakar Ayam Sukun Mangga Balado” sebagai salah satu syarat untuk memenuhi ujian mata kuliah bisnis kehutanan ini.
Penulis berterima kasih kepada Dr. Agus Purwoko., M.Si selaku dosen pembimbing mata kuliah bisnis kehutanan yang telah membimbing dalam menjalani ujian ini. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman
yang telah membantu selama praktikum berlangsung.
Penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca agar laporan ini
menjadi lebih baik. Akhir kata, semoga paper ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, April 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................................
ii
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang ....................................................................................... 1
Tujuan .................................................................................................... 2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
METODE
PRAKTIKUM
Waktu dan Tempat ................................................................................. 5
Alat dan Bahan ....................................................................................... 5
Prosedur Percobaan ............................................................................... 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ........................................................................................................ 6
Pembahasan .......................................................................................... 7
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
............................................................................................. 8
Saran ....................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sukun (Arthocarpus communis) merupakan tanaman kehutanan terkategori MPTS
(multi purpose tree species) sebagai
penghasil buah dan sumber karbohidrat yang
semakin penting peranannya dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Kemampuan
tumbuh tanaman sukun di banyak tempat menyebabkan tersebarnya tanaman ini ada di
setiap tempat. Jadi pemanfaatan tanaman ini sangat dibutuhkan untuk
meningkatkan daya guna dan nilai ekonomi dari
tanaman tersebut dengan diversifikasi jenis produk olahan sukun.
Program kegiatan mahasiswa ini diharapkan memberikan
informasi tentang pemanfaatan buah sukun kepada masyarakat dan menghasilkan
karya kreatif dalam membuka peluang usaha khususnya di kota Stabat, Kabupaten
Langkat, Sumatera Utara. Dengan memadukan buah mangga dan sambal balado sebagai
penambah variasi rasa dan kelezatan asam pedas yang menggugah selera, maka diajukan
proposal kewirausahaan berjudul "Ceker Ayam Sukun Mangga Balado"
sebagai inovasi cemilan baru yang sehat, murah dan digemari masyarakat.
Adanya teknik pembibitan
yang baik semakin mendorong penyebaran tanaman sukun semakin luas. Berdasarkan
hasil pengamatan menunjukkan adanya variasi buah sukun antara daerah yang satu
dengan yang lainnya, sehingga banyak dikenal nama-nama sukun sesuai dengan
daerah asalnya Antara lain sukun Cilacap, sukun Pulau Seribu, sukun Bawean,
sukun Bone, suku Sorong dan sebagainya (Pitojo, 1992). Berdasarkan ukuran dan
ciri-ciri buah yang lain dikenal sukun emprit, sukun putih, sukun mentega dan
sukun menir (Kartono et al, 2004), sukun gundul dan sukun kuning. Mengingat
adanya variasi morfologi buah sukun yang terdapat di berbagai daerah
sebarannya, maka dilakukan penelitian untuk mengetahui variasi morfologi buah
dan kandungan gizi buah sukun dari populasi-populasi tersebut. Hasil penelitian
ini memberikan informasi tentang kandungan gizi buah sukun dari beberapa populasi sebagai bahan untuk
pengembangan lebih lanjut jenis tanaman sukun dalam rangka meningkatkan
ketahanan pangan nasional. Sukun (Artocarpus altilis [Park.] Fosberg)
merupakan salah satu tanaman penghasil buah utama dari keluarga Moraceae.
Tanaman ini sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia bahkan di
beberapa negara di kawasan Pasifik seperti Fiji, Tahiti, Kepulauan Samoa, dan Hawai,
buah sukun telah dimanfaatkan sebagai makanan pokok tradisional. Akan tetapi
bagi masyarakat Indonesia, konsumsi buah sukun umumnya masih terbatas (Adinugraha dan Kartikawati, 2012).
Sukun merupakan salah
satu sumber karbohidrat yang potensial untuk dikembangkan. Produksi sukun di
Indonesia terus meningkat dari 35.435 ton (tahun 2000) menjadi 92.014 ton
(tahun 2007) dengan luas panen 13.359 ha (Widowati, 2009). Buah sukun
mengandung karbohidrat, protein, dan lemak. Selain itu, buah sukun juga
mengandung vitamin B1, B2, dan vitamin C serta mineral seperti kalsium, fosfor,
dan zat besi yang dibutuhkan oleh manusia. Buah sukun telah lama dimanfaatkan sebagai bahan
pangan, yaitu sebagai makanan tradisional dan makanan ringan, seperti produk
keripik, sukun rebus, dan tape sukun. Buah sukun yang telah mencapai ketuaan
optimal, bila tidak segera dikonsumsi atau diproses lanjut akan menjadi
lunak/busuk dalam waktu beberapa hari. Untuk mengantisipasi melimpahnya sukun
saat panen raya dan memperpanjang umur simpannya, maka produk setengah jadi
yang sesuai adalah diproses menjadi tepung (Widowati, 2009).
1.2 Rumusan
Masalah
Pembuatan cakar ayam dari
buah sukun belum ada di kota Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Pembuatan makanan ini berguna untuk
meningkatkan variasi pemanfaatan buah sukun yang sebaran tumbuhnya tinggi.
1.3 Tujuan
Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan variasi pengolahan buah sukun dan meningkatkan pendapatan dengan memanfaatkan buah
sukun.
BAB
2
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Kasifikasi
dan Morfologi
Sistematika (taksonomi) tanaman sukun adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermathophyta
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Arthocarpus
Spesies
: Arthocarpus
communis Forst
(Syadat,
A. 2009).
Sukun (Artocarpus altilis
[Park. Fosberg) merupakan salah satu tanaman penghasil buah utama
dari keluarga Moraceae. Tanaman ini sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat
Indonesia bahkan di beberapa negara di kawasan Pasifik seperti Fiji, Tahiti,
Kepulauan Samoa, dan Hawai, buah sukun telah dimanfaatkan sebagai makanan pokok
tradisional. Akan tetapi bagi masyarakat Indonesia, konsumsi buah sukun umumnya
masih terbatas sebagai makanan ringan dan sayur. Pemanfaatan buah sukun akan semakin
penting di masa depan untuk mendukung program deversifikasi pangan dalam rangka
menunjang program ketahanan pangan nasional (Kedaulatan Rakyat, 2008). Sebagai
salah satu sumber bahan pangan alternatif, buah sukun terbukti memiliki
kandungan gizi cukup tinggi
2.2 Ciri-ciri Buah Sukun
Secara visual, sukun mempunyai buah berukuran relatif besar dengan
warna kulit buah hijau kekuningan dengan duri dengan mata faset berbentuk segi
empat/enam, sehingga tidak terlihat berbulu, tetapi pada pangkalnya melebar.
Bentuk buah sukun memanjang, tidak berbiji, tekstur daging buah halus dengan
aroma khas dengan warna daging buah putih (Rehatta dan Kesaulya,
2010).
2.3 Kandungan Buah Sukun
Tanaman sukun menghasilkan buah yang memiliki
kandungan gizi tinggi, dan potensial dijadikan sebagai bahan makanan pokok
alternatif pengganti beras. Buah sukun potensial untuk bahan makanan pokok
pengganti beras karena dengan
kandungan karbohidrat 28,2% maka satu buah sukun yang beratnya 1.500 gram tersedia karbohidrat 365 gram yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 3-4 orang dalam sekali makan. Menteri Kehutanan menyatakan bahwa jenis sukun dan sagu merupakan cadangan makanan yang sangat potensial untuk jangka waktu ke depan (Adinugraha dan Kartikawati, 2012).
kandungan karbohidrat 28,2% maka satu buah sukun yang beratnya 1.500 gram tersedia karbohidrat 365 gram yang cukup untuk memenuhi kebutuhan 3-4 orang dalam sekali makan. Menteri Kehutanan menyatakan bahwa jenis sukun dan sagu merupakan cadangan makanan yang sangat potensial untuk jangka waktu ke depan (Adinugraha dan Kartikawati, 2012).
Selain
karbohidrat, protein, dan lemak, buah sukun juga mengandung vitamin B1, B2, dan
vitamin C, mineral kalsium, fosfor, dan zat besi. Buah sukun yang telah dimasak
cukup bagus sebagai sumber vitamin A dan B komplek tetapi miskin akan vitamin C.
Kandungan mineral Ca dan P buah sukun lebih baik daripada kentang dan kira-kira
sama dengan yang ada dalam ubi jalar. Salah satu upaya untuk meningkatkan daya
guna sukun dan nilai ekonominya dapat dilakukan dengan menganekaragamkan jenis
produk olahan sukun (Medikasari et al. 2009).
2.4 Pemanfaatan
Buah Sukun
Tanaman sukun dalam
beberapa tahun terakhir banyak peminatnya. Sukun merupakan tanaman MPTS
(multi purpose tree species) sebagai pengasil buah sumber karbohidrat yang
semakin penting peranannya dalam mendukung ketahanan pangan nasional (Rehatta dan Kesaulya, 2010). Akan tetapi bagi
masyarakat Indonesia, konsumsi buah sukun umumnya masih terbatas sebagai
makanan ringan dan sayur (Adinugraha dan
Kartikawati 2012). Salah satu upaya untuk meningkatkan daya guna sukun dan
nilai ekonominya dapat dilakukan dengan menganekaragamkan jenis produk olahan
sukun (Medikasari et
al. 2009).
Penyebaran tanaman sukun di Indonesia sangat luas yang tersebar
mulai dari Aceh sampai Papua. Hal tersebut merupakan potensi yang sangat besar
untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan makan pokok alternative. Tanaman sukun memiliki
kemampuan beradaptasi yang baik termasuk pada lahan marginal/lahan kritis. Adanya teknik pembibitan
yang baik semakin mendorong penyebaran tanaman sukun semakin luas. Berdasarkan
hasil pengamatan menunjukkan adanya variasi buah sukun antara daerah yang satu
dengan yang lainnya, sehingga banyak dikenal nama-nama sukun sesuai dengan
daerah asal (Adinugraha dan
Kartikawati 2012).
BAB 3
BAHAN DAN METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan ini akan dilaksanakan pada bulan April sampai Juli 2019. Sedangkan lokasi kegiatan
dilakukan di Stabat
Kabupaten Langkat.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah
serutan besi, pisau, parang, ember, talam, talenan, tirisan, wajan, spatula,
kompor, blender, sendok makan, kertas
minyak, dan gas.
Bahan yang digunakan adalah buah sukun, buah
mangga, cabai, bawang putih, bawang merah, gula merah, gula putih, merica,
garam, minyak goreng, asam jawa, dan air kapur.
3.3 Metodologi Percobaan
3.3.1 Pemilihan Buah Sukun
Setiap
buah memiliki variasi kualitas. Untuk
mendapatkan hasil yang baik harus terlebih dahulu mengetahui ciri sukun yang
bagus. Sukun yang bagus adalah buah sukun tidak lembek, mempunyai ukuran buah
yang relatif besar dengan warna kulit buah hijau kekuningan.
3.3.2
Pengupasan
Buah Sukun
Buah sukun yang telah dipilih dan
dibersihkan di air mengalir lalu dikupas menggunakan pisau. Kemudian dibelah
menjadi 4 bagian dengan menggunakan parang. Bagian-bagian tadi direndam di
dalam air yang telah di campur dengan air kapur guna membuat sukun menjadi
lebih renyah ketika dimakan.
3.3.3 Penyerutan Buah Sukun
Buah yang telah dicuci ditiriskan
hingga airnya mengering. Lalu buah diserut dengan serutan besi. Usahakan
serutan buah sukun panjang-panjang agar memudahkan proses pembentukan cakar.
3.3.4 Penggorengan Serutan Buah Sukun
Buah sukun yang telah menjadi serutan
digoreng hingga berwarna cokelat keemasan. Lalu ditiriskan dan didinginkan di
atas talam yang telah dialasi kertas minyak.
3.3.5 Pembuatan Sambal Mangga Balado
Buah mangga dicuci hingga bersih lalu
dikupas, dipotong kecil-kecil, dan dihaluskan bersama cabai, bawang merah,
bawang putih, merica, serta tambahkan minyak goreng secukupnya. Sambal yang
telah dihaluskan ditumis dan ditambahkan gula merah, gula putih, garam, dan
asam jawa. Aduk hingga mendidih. Setelah sambal matang lalu diangkat.
3.3.6 Pembentukan Cakar
Sambal yang telah masak dituang ke
talam yang berisi serutan sukun yang telah digoreng tadi. Usahakan sambal
disebar merata dan diaduk. Bentuk cakar menjadi bulat selagi campuran tersebut
masih hangat guna memudahkan pembentukan. Lalu cakar yang telah terbentuk didinginkan
dengan suhu ruangan dan dikemas.
3.3.7 Alur Analisis Data
|
Pemilihan buah sukun yang berkualitas bagus.
|
|
Pegupasan buah sukun menjadi 4 bagian.
|
|
Penyerutan buah sukun
|
|
Penggorengan serutan buah sukun hingga coklat
kecoklatan
|
|
Pengemasan
|
|
Pembuatan sambal mangga balado.
|
|
Pembentukan cakar
|
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1.
Sukun (Artocarpus altilis
[Park. Fosberg) merupakan salah satu tanaman penghasil buah utama
dari keluarga Moraceae
2.
Tanaman
sukun dalam beberapa tahun terakhir banyak peminatnya. Sukun merupakan tanaman MPTS
(multi purpose tree species) sebagai pengasil buah sumber karbohidrat
3.
Buah
sukun dapatdiolah menjadi cakar ayam yang enak dengan paduan sambal mangga balado
4.
Selain
karbohidrat, protein, dan lemak, buah sukun juga mengandung vitamin B1, B2, dan
vitamin C, mineral kalsium, fosfor, dan zat besi.
DAFTAR PUSTAKA
Rehatta, H dan Kesaulya,
H. 2010. Identifikasi Tanaman Sukun (Arthocarpus
communis Forst) Di Pulau Ambon.
Jurnal Budidaya Pertanian. 6 (2): 58
-62.
Medikasari, Nurdjanah S, Yuliana N, Naomi L.C.S. 2009. Amilografi Pasta Pati Sukun Termodifikasi Menggunakan Sodium
Tripolifosfat. Jurnal Teknologi Industri dan Hasil Pertanian. 14 (2) : 173-177.
Syadat, A. 2009. Inventarisasi Tanaman Sukun (Arthocarpus communis) Pada Berbagai
Ketinggian Di Sumatera Utara. Medan. Skripsi.
Adinugraha
HA dan Kartikawati, NK. 2012. Variasi Morfologi
Dan Kandungan Gizi Buah Sukun. Wana Benih. 13 (2): 99-106.
